Senin, 20 Oktober 2014

That feel

Rasa Yang Terpendam

Kilauan cahaya matahari tampak indah bersinar menerangi pagi buta yang menyejukkan hati, memberikan kehangatan kepada penikmatnya.Menggantikan semangat yang telah pudar kembali menjadi semangat baru untuk menjalani masa depan. Kicauan burung memberikan alunan nada yang harmonis, menentramkan bagi siapa saja yang mendengarnya. Kulangkahkan kaki ini dengan penuh tekad yang kuat untuk menggapai mimpi yang nampak masih jauh dari pandangan mata. Langkah kaki ini terasa ringan, melangkah menuju tempat tujuan yang selalu ku tuju jika pagi menjelang. Bersiap menggeluti buku-buku dan kata demi kata yang keluar dari guru yang mengajar. Langkah kaki ini terus melangkah, seakan tak ada secuil beban pun yang menghalanginya untuk melangkah maju menuju tempat tujuan, tak terasa kaki ini sudah berpijak di tempat yag benar-benar ku tuju, kelas. Ya kini aku telah berada di kelas, kelas XI MIIA 4, tempat dimana aku melaksanakan kegiatan pembelajaran selama beberapa waktu ke depan. Kulirikkan mataku, tak banyak orang telah datang pagi ini. Hanya beberapa orang saja yang tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
“ Pagi Nadia..!” sapa seseorang yang kini telah duduk di sampingku
“ Pagi Da !” jawabku sambil tersenyum membalas sapaan Farda
“ udah ngerjain pr?” tanyanya
Aku hanya mengangguk mantap menjawab pertanyaannya, hari ini memang tampak cerah pantas saja semua orang terlhiat lebih bersemangat dari pada biasanya.  Ku edarkan mataku menelaah keadaan sekitar, membiarkan temanku sibuk dengan aktivitasnya. Tiba-tiba mata ini terpaku, pada satu titk fokus yang membuatku diam tak berkutik.
“Dia lewat!” gumamku pelan, bahkan sangat pelan nyaris seperti bisikan.
“ Dia siapa?” tanya Farda langsung.
Aku menoleh kaget ke arahnya, memandangnya tak percaya dia bisa mendengar suaraku yang sekecil tadi.
“ Dia siapa Nadia?” ulangnya lagi dengan pertanyaan yang sama
Dia Farez  Rahardian yang akhir-akhir ini berhasil masuk tanpa ijin ke dalam hatiku, Farez yang selalu ramah pada siapa pun, Farez yang baik, Farez yang,,, ah sudahlah,,
“ Bukan siapa-siapa, Farda!” ucapku sambil tersenyum tipis.
Dia hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan senyuman yang sama sekali tak dapat ku artikan.
“ kenapa?” tanyaku akhirnya
“Tidak ada” jawabnya sok misterius
Aku hanya mengedikkan bahuku aneh melihat tingkahnya, terkadang Farda bisa menjadi orang yang menyebalkan dengan tingkahnya yang membuat naik darah. Tapi, walaupun begitu dia adalah teman yang baik, selalu menemaniku di saat suka dan duka, dia tempat yang tepat untuk menceritakan semua apa yang tengah aku rasakan, kecuali tentang perasaan yang baru-baru ini ku sadari, aku belum siap untuk membagi kepadanya karena jujur saja aku masih bingung dengan perasaanku.
Tiba-tiba suara bel berbunyi pertanda pelajaran akan segera di mulai, membuatku terbangun dari duniaku sendiri. Membuatku bersiap-siap untuk menerima pelajaran hari ini. Pelajaran demi pelajaran terus berganti seiring waktu yang berjalan, berbagai pengetahuan telah tersampaikan oleh guru-guru yang bergantian masuk ke kelas ku. Sesekali kepalaku menoleh kesamping kanan dan kiri, memperhatikan mereka yang sedang serius mendengarkan apa yang tengah mereka dengarkan, ada saja di antara mereka yang tertidur dengan pulasnya tanpa memikirkan apa resiko yang akan tejadi nanti.
“Nad, aku ngantuk” ucap teman sebangkuku Farda
“ Sama aku juga” balasku lemas
Tetapi tak berapa lama rasa kantukku dan Farda hilang seketika, ketika suara yang sangat kami tunggu-tunggu menunjukkan kebolehannya membuat setiap siswa tersenyum lega dan bernapas lega karena akhirnya jam pelajaran telah selesai, guru yang mengajar di kelaspun melangkahkan kakinya keluar kelas membuatku dan yang lain meregangkat otot yang kaku karena hanya bisa duduk berjam-jam mendengarkan apa yang tengah di sampaikan oleh guru tanpa bisa berkutik.
“ Akhirnya,,,,,,, kamu mau pulang bareng aku?” tanya Farda yang tengah memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dan sesekali menoleh kearahku.
“ iya lah, kan rumah kita satu arah” ucapku tersenyum
“ Farda, Nadia aku duluan ya” ucap salah satu teman sekelasku dan Farda, Niken
“ iya” balasku sedangkan Farda hanya membalasnya dengan senyuman
Mataku kembali mengamati keadaan sekitar, ketika lagi-lagi mataku menangkap seseorang yang selama ini telah berhasil merebut hatiku, aku hanya bisa diam terpaku ketika dia berjalan memasuki kelasku. Aku sempat beradu pandang dengannya, ketika dia mulai mendekat melewati mejaku, tetapi sebisa mungkin aku bersikap seoalah tak terjadi apa-apa, kembali tenang dan melanjutkan aktivitasku yang sempat tertunda karenanya.
“ Farez” teman sekelasku Devon memanggilnya, meraka berbincang-binyak seperti membicarakan hal yang sangat serius. Sesekali di iringi gelak tawa dari mereka.
“ malah ngelamun” gerutu Farda yang telah beranjak dari tempat duduknya
Aku terkesiap kaget di buatnya” apaan sih, aku ngga ngelamun kali” ucapku sebal.
“ ya udah, ayo pulang” ajaknya sambil berjalan mendahuluiku.
Kemudian kulangkahkan kakiku meninggalkan  ruangan kelas, meninggalkan dia yang tengah tertawa manis, melupakan kenyataan bahwa ada rasa yag mulai tumbuh di hati. Kaki ku terus melangkah tanpa henti, dan hanya mampunyai satu tujuan saat ini, yaitu rumah. Ya, rumah selalu memberikan kenyamanannya dengan caranya sendiri.
Cahaya  rembulan beradu pada peraduannya, menggantikan kilauan cahaya matahari yang menyinari bumi tanpa enggan. Bintang-bintang bertaburan di langit pekat, menemani rembulan yang meneyendiri. Mata ini tak henti- hentinya memandangi satu nama yang tertulisan di layar ponselku, entah sejak kapan kebiasaan ini terjadi, mungkin sejak mimpi itu mimpi yang secara tidak langsung membuat rasa ini tumbuh begitu saja tanpa permisi, mengisi ke kosongan hati yang hampa.
Hari terus berganti hari lagi, rasa yang awalnya hanya tumbuh sebesar biji jagung kini tumbuh semakin besar, memenuhi seluruh ruang hatiku yang hampa, bahkan mungkin rasa ini telah berkembang menjadi rasa cinta, entahlah. Aku bingung, apakah rasa ini pantas untuk aku rasakan?
Lagi-lagi aku hanya bisa terdiam, ketika dengan tidak sengaja mata ini terarahkan kepada Farez orang yang selama ini menjadi penghuni di dalam ruang hati yang hampa. Aku hanya bisa terdiam, terlalu kelu lidah ini walau hanya sekedar menyapanya, dan seperti yang telah ku lakukan sebelumnya, hanya memandangnya dengan kediaman yang tiada arti.
“ tuh kan, ngelamun lagi” tiba-tiba suara yang begitu familiar di telingaku datang begitu saja merusak suasana yang sedang ku nikmati
“ apaan sih, gangggu aja” gerutuku pada Farda
“Hutang cerita sama aku” cecarnya kemudian , aku menyerngitkan dahiku bingung
“ Cerita apaan?” tanyaku bingung
“ Aku tau, kamu nyembunyiin sesuatu dari aku keliatan dari mata kamu tuh” ucapnya sambil menunjuk ke arah mataku.
Aku menghela nafas sebentar, mungkin ini saatnya aku berbagi cerita dengan Farda, pikirku.
“ ayo deh aku ceritain, tapi jangan di sini di taman aja gimana?” ucapku
“ No problem”
Kemudian aku dan Farda pergi ke taman belakang sekolah, tempat yang paling aman untuk curhat, karena tempat ini jarang sekali di kunjungi oleh anak-anak SMA Tunas Bangsa ini, hanya segelintir orang saja yang mengunjungi tempat ini.
“ya udah, cepet cerita” pinta Farda tak sabar
Aku menghela napas sejenak.
“ Aku lagi suka sama orang, Da” ucapku pelan
“ Aku tahu” jawabnya yang membuatku sontak membulatkan mata
“ kamu tau dari mana Da” tanyaku tak percaya
“ keliatan dari mata kamu Nadia” kata Farda sambil tersenyum meremehkan
“ Tuh kan, kamu nyebelin banget deh da?” gerutuku
“loh ko aku yang nyebelin? Harusnya tuh, aku yang bilang kaya gitu, kamu tuh nyebelin ngga cerita-cerita kalau kamu lagi suka sama orang” jelasnya
“ Aku ngga cerita sama kamu itu, karena aku belum yakin sama perasaan aku. Kagumkah, sukakah, atau bahkan mungkin cinta pun aku ngga tahu.” Jelasku pada Farda 
“ Terus intinya sekarang kamu suka sama siapa?” tanyanyay penasaran
“ Aku suka sama Farez Da, Farez Rahardian” lirihku pelan tak bersemangat
“ Apa? Farez Rahardian anak XI MIIA 5?” tanyanya memastikan
Aku mengangguk mantap, tetapi raut wajah Farda berubah seketika seperti ada hal yang mengganggunya saat ini.
“ kenapa Da?” tanyaku khawatir
“ Kamu belum tau apa emang kamu pura-pura ngga tau?” tanyanya memastikan lagi
“ Tau apaan sih Da? Dan emang, aku bener-bener ngga tau. Emang ada apa?” jawab sekaligus tanyaku pada Farda
“ Setahu  aku Farez itu lagi deket sama Nina, dan menurut berita yang ada mereka saling menyukai satu sama lain” jelasnya santai
Deg… kata-kata yang terlontar dari mulut Farda mampu membuatku diam tak berkutik, terlalu sakit untuk di dengar dan di percaya.
“Kamu ngga bercanda kan?” tanyaku memastikan
“Ngapain aku bercanda Nad, lagian kenapa kamungga bilang dari awal kalau kamu suka sama Farez biar aku bisa kasih tahu kamu lebih awal” ujarnya” aku pikir kamu masih suka sama Devon” tambahnya lagi
Ya, memang dulu sebelum aku memiliki rasa pada Farez, aku sempat kagum pada Devon teman sekelasku tapi seiring berjalannya waktu rasa itu perlahan hilang begitu saja.
“ Terus aku sekarang harus ngapain Da?” tanyaku lemah pada Farda
“Kamu harus buang perasaan kamu jauh-jauh, sebelum rasa itu semakin dalam dan semakin buat kamu sakit” ucap Farda pelan
Walaupun rasa itu baru aku rasakan, tapi rasa itu mampu membuatku merasakan sakit yang teramat perih. Pertahananku ambruk, air mata yang sedari tadi ku tahan kini mengalir bebas membasahi pipiku.
“Udahlah, ngga usah nangis” nasehatnya
“Aku ngga nangis ko, lagian perasaan itu hadir belum terlalu lama dan artinya aku mudah untuk menghilagkan perasaan itu” ucapku berusaha tegar dan sedikit berkelak pada kenyataan yang tengah aku rasakan.
Farda hanya tersenyum menanggapi  pernyataanku, walaupun aku sendiri tak tahu apa aku bisa menghilangkan rasa ini secepat yang aku inginkan.
Setelah pernyataan yang di lontarkan Farda, aku mulai mencoba untuk menghilangkan rasa yang pernah ku miliki untuk Farez, mencoba merelakan rasa ini untuk pergi. Walaupun setiap aku mendengar namanya di sebut dan di sandingkan dengan gadis yang mungkin di cintainya,mampu menorehkan luka yang tak kasat mata tapi mampu menimbulkan sakit yang mendalam. Aku hanya bisa berdoa jika memang rasa itu tak pantas untuk hadir di hatiku, biarkanlah rasa itu untuk segera pergi tanpa harus menimbulkan jejak yang nyata, tapi jika memang rasa itu pantas untuk hadir mengisi kekosongan hati yang selama ini ku jaga, biarkanlah rasa itu untuk tetap tinggal dan terjaga. Melengkapi kehampaan relung hati dan memberikan secercah warna kehidupan di hatiku. Walau nantinya, rasa itu hanya mampu terpendam dalam  hati dan hanya mampu di ungkapkan dengan keterdiaman yang berarti.