Rasa
Yang Terpendam
Kilauan cahaya matahari tampak indah bersinar menerangi pagi buta
yang menyejukkan hati, memberikan kehangatan kepada penikmatnya.Menggantikan
semangat yang telah pudar kembali menjadi semangat baru untuk menjalani masa
depan. Kicauan burung memberikan alunan nada yang harmonis, menentramkan bagi
siapa saja yang mendengarnya. Kulangkahkan kaki ini dengan penuh tekad yang
kuat untuk menggapai mimpi yang nampak masih jauh dari pandangan mata. Langkah
kaki ini terasa ringan, melangkah menuju tempat tujuan yang selalu ku tuju jika
pagi menjelang. Bersiap menggeluti buku-buku dan kata demi kata yang keluar
dari guru yang mengajar. Langkah kaki ini terus melangkah, seakan tak ada
secuil beban pun yang menghalanginya untuk melangkah maju menuju tempat tujuan,
tak terasa kaki ini sudah berpijak di tempat yag benar-benar ku tuju, kelas. Ya
kini aku telah berada di kelas, kelas XI MIIA 4, tempat dimana aku melaksanakan
kegiatan pembelajaran selama beberapa waktu ke depan. Kulirikkan mataku, tak
banyak orang telah datang pagi ini. Hanya beberapa orang saja yang tengah sibuk
dengan aktivitasnya masing-masing.
“ Pagi Nadia..!” sapa seseorang yang kini telah duduk di sampingku
“ Pagi Da !” jawabku sambil tersenyum membalas sapaan Farda
“ udah ngerjain pr?” tanyanya
Aku hanya mengangguk mantap menjawab pertanyaannya, hari ini
memang tampak cerah pantas saja semua orang terlhiat lebih bersemangat dari
pada biasanya. Ku edarkan mataku
menelaah keadaan sekitar, membiarkan temanku sibuk dengan aktivitasnya. Tiba-tiba
mata ini terpaku, pada satu titk fokus yang membuatku diam tak berkutik.
“Dia lewat!” gumamku pelan, bahkan sangat pelan nyaris seperti
bisikan.
“ Dia siapa?” tanya Farda langsung.
Aku menoleh kaget ke arahnya, memandangnya tak percaya dia bisa
mendengar suaraku yang sekecil tadi.
“ Dia siapa Nadia?” ulangnya lagi dengan pertanyaan yang sama
Dia Farez Rahardian yang
akhir-akhir ini berhasil masuk tanpa ijin ke dalam hatiku, Farez yang selalu
ramah pada siapa pun, Farez yang baik, Farez yang,,, ah sudahlah,,
“ Bukan siapa-siapa, Farda!” ucapku sambil tersenyum tipis.
Dia hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan senyuman
yang sama sekali tak dapat ku artikan.
“ kenapa?” tanyaku akhirnya
“Tidak ada” jawabnya sok misterius
Aku hanya mengedikkan bahuku aneh melihat tingkahnya, terkadang
Farda bisa menjadi orang yang menyebalkan dengan tingkahnya yang membuat naik
darah. Tapi, walaupun begitu dia adalah teman yang baik, selalu menemaniku di
saat suka dan duka, dia tempat yang tepat untuk menceritakan semua apa yang
tengah aku rasakan, kecuali tentang perasaan yang baru-baru ini ku sadari, aku
belum siap untuk membagi kepadanya karena jujur saja aku masih bingung dengan
perasaanku.
Tiba-tiba suara bel berbunyi pertanda pelajaran akan segera di
mulai, membuatku terbangun dari duniaku sendiri. Membuatku bersiap-siap untuk
menerima pelajaran hari ini. Pelajaran demi pelajaran terus berganti seiring
waktu yang berjalan, berbagai pengetahuan telah tersampaikan oleh guru-guru
yang bergantian masuk ke kelas ku. Sesekali kepalaku menoleh kesamping kanan
dan kiri, memperhatikan mereka yang sedang serius mendengarkan apa yang tengah
mereka dengarkan, ada saja di antara mereka yang tertidur dengan pulasnya tanpa
memikirkan apa resiko yang akan tejadi nanti.
“Nad, aku ngantuk” ucap teman sebangkuku Farda
“ Sama aku juga” balasku lemas
Tetapi tak berapa lama rasa kantukku dan Farda hilang seketika,
ketika suara yang sangat kami tunggu-tunggu menunjukkan kebolehannya membuat setiap
siswa tersenyum lega dan bernapas lega karena akhirnya jam pelajaran telah
selesai, guru yang mengajar di kelaspun melangkahkan kakinya keluar kelas
membuatku dan yang lain meregangkat otot yang kaku karena hanya bisa duduk
berjam-jam mendengarkan apa yang tengah di sampaikan oleh guru tanpa bisa
berkutik.
“ Akhirnya,,,,,,, kamu mau pulang bareng aku?” tanya Farda yang
tengah memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dan sesekali menoleh kearahku.
“ iya lah, kan rumah kita satu arah” ucapku tersenyum
“ Farda, Nadia aku duluan ya” ucap salah satu teman sekelasku dan
Farda, Niken
“ iya” balasku sedangkan Farda hanya membalasnya dengan senyuman
Mataku kembali mengamati keadaan sekitar, ketika lagi-lagi mataku
menangkap seseorang yang selama ini telah berhasil merebut hatiku, aku hanya
bisa diam terpaku ketika dia berjalan memasuki kelasku. Aku sempat beradu
pandang dengannya, ketika dia mulai mendekat melewati mejaku, tetapi sebisa
mungkin aku bersikap seoalah tak terjadi apa-apa, kembali tenang dan
melanjutkan aktivitasku yang sempat tertunda karenanya.
“ Farez” teman sekelasku Devon memanggilnya, meraka berbincang-binyak
seperti membicarakan hal yang sangat serius. Sesekali di iringi gelak tawa dari
mereka.
“ malah ngelamun” gerutu Farda yang telah beranjak dari tempat
duduknya
Aku terkesiap kaget di buatnya” apaan sih, aku ngga ngelamun kali”
ucapku sebal.
“ ya udah, ayo pulang” ajaknya sambil berjalan mendahuluiku.
Kemudian kulangkahkan kakiku meninggalkan ruangan kelas, meninggalkan dia yang tengah
tertawa manis, melupakan kenyataan bahwa ada rasa yag mulai tumbuh di hati.
Kaki ku terus melangkah tanpa henti, dan hanya mampunyai satu tujuan saat ini,
yaitu rumah. Ya, rumah selalu memberikan kenyamanannya dengan caranya sendiri.
Cahaya rembulan beradu pada
peraduannya, menggantikan kilauan cahaya matahari yang menyinari bumi tanpa
enggan. Bintang-bintang bertaburan di langit pekat, menemani rembulan yang
meneyendiri. Mata ini tak henti- hentinya memandangi satu nama yang tertulisan
di layar ponselku, entah sejak kapan kebiasaan ini terjadi, mungkin sejak mimpi
itu mimpi yang secara tidak langsung membuat rasa ini tumbuh begitu saja tanpa
permisi, mengisi ke kosongan hati yang hampa.
Hari terus berganti hari lagi, rasa yang awalnya hanya tumbuh
sebesar biji jagung kini tumbuh semakin besar, memenuhi seluruh ruang hatiku
yang hampa, bahkan mungkin rasa ini telah berkembang menjadi rasa cinta,
entahlah. Aku bingung, apakah rasa ini pantas untuk aku rasakan?
Lagi-lagi aku hanya bisa terdiam, ketika dengan tidak sengaja mata
ini terarahkan kepada Farez orang yang selama ini menjadi penghuni di dalam
ruang hati yang hampa. Aku hanya bisa terdiam, terlalu kelu lidah ini walau
hanya sekedar menyapanya, dan seperti yang telah ku lakukan sebelumnya, hanya
memandangnya dengan kediaman yang tiada arti.
“ tuh kan, ngelamun lagi” tiba-tiba suara yang begitu familiar di
telingaku datang begitu saja merusak suasana yang sedang ku nikmati
“ apaan sih, gangggu aja” gerutuku pada Farda
“Hutang cerita sama aku” cecarnya kemudian , aku menyerngitkan dahiku
bingung
“ Cerita apaan?” tanyaku bingung
“ Aku tau, kamu nyembunyiin sesuatu dari aku keliatan dari mata
kamu tuh” ucapnya sambil menunjuk ke arah mataku.
Aku menghela nafas sebentar, mungkin ini saatnya aku berbagi
cerita dengan Farda, pikirku.
“ ayo deh aku ceritain, tapi jangan di sini di taman aja gimana?”
ucapku
“ No problem”
Kemudian aku dan Farda pergi ke taman belakang sekolah, tempat yang
paling aman untuk curhat, karena tempat ini jarang sekali di kunjungi oleh
anak-anak SMA Tunas Bangsa ini, hanya segelintir orang saja yang mengunjungi
tempat ini.
“ya udah, cepet cerita” pinta Farda tak sabar
Aku menghela napas sejenak.
“ Aku lagi suka sama orang, Da” ucapku pelan
“ Aku tahu” jawabnya yang membuatku sontak membulatkan mata
“ kamu tau dari mana Da” tanyaku tak percaya
“ keliatan dari mata kamu Nadia” kata Farda sambil tersenyum
meremehkan
“ Tuh kan, kamu nyebelin banget deh da?” gerutuku
“loh ko aku yang nyebelin? Harusnya tuh, aku yang bilang kaya
gitu, kamu tuh nyebelin ngga cerita-cerita kalau kamu lagi suka sama orang”
jelasnya
“ Aku ngga cerita sama kamu itu, karena aku belum yakin sama
perasaan aku. Kagumkah, sukakah, atau bahkan mungkin cinta pun aku ngga tahu.”
Jelasku pada Farda
“ Terus intinya sekarang kamu suka sama siapa?” tanyanyay
penasaran
“ Aku suka sama Farez Da, Farez Rahardian” lirihku pelan tak
bersemangat
“ Apa? Farez Rahardian anak XI MIIA 5?” tanyanya memastikan
Aku mengangguk mantap, tetapi raut wajah Farda berubah seketika
seperti ada hal yang mengganggunya saat ini.
“ kenapa Da?” tanyaku khawatir
“ Kamu belum tau apa emang kamu pura-pura ngga tau?” tanyanya
memastikan lagi
“ Tau apaan sih Da? Dan emang, aku bener-bener ngga tau. Emang ada
apa?” jawab sekaligus tanyaku pada Farda
“ Setahu aku Farez itu lagi
deket sama Nina, dan menurut berita yang ada mereka saling menyukai satu sama
lain” jelasnya santai
Deg… kata-kata yang terlontar dari mulut Farda mampu membuatku
diam tak berkutik, terlalu sakit untuk di dengar dan di percaya.
“Kamu ngga bercanda kan?” tanyaku memastikan
“Ngapain aku bercanda Nad, lagian kenapa kamungga bilang dari awal
kalau kamu suka sama Farez biar aku bisa kasih tahu kamu lebih awal” ujarnya”
aku pikir kamu masih suka sama Devon” tambahnya lagi
Ya, memang dulu sebelum aku memiliki rasa pada Farez, aku sempat
kagum pada Devon teman sekelasku tapi seiring berjalannya waktu rasa itu
perlahan hilang begitu saja.
“ Terus aku sekarang harus ngapain Da?” tanyaku lemah pada Farda
“Kamu harus buang perasaan kamu jauh-jauh, sebelum rasa itu
semakin dalam dan semakin buat kamu sakit” ucap Farda pelan
Walaupun rasa itu baru aku rasakan, tapi rasa itu mampu membuatku
merasakan sakit yang teramat perih. Pertahananku ambruk, air mata yang sedari
tadi ku tahan kini mengalir bebas membasahi pipiku.
“Udahlah, ngga usah nangis” nasehatnya
“Aku ngga nangis ko, lagian perasaan itu hadir belum terlalu lama
dan artinya aku mudah untuk menghilagkan perasaan itu” ucapku berusaha tegar
dan sedikit berkelak pada kenyataan yang tengah aku rasakan.
Farda hanya tersenyum menanggapi
pernyataanku, walaupun aku sendiri tak tahu apa aku bisa menghilangkan
rasa ini secepat yang aku inginkan.
Setelah pernyataan yang di lontarkan Farda, aku mulai mencoba
untuk menghilangkan rasa yang pernah ku miliki untuk Farez, mencoba merelakan
rasa ini untuk pergi. Walaupun setiap aku mendengar namanya di sebut dan di
sandingkan dengan gadis yang mungkin di cintainya,mampu menorehkan luka yang
tak kasat mata tapi mampu menimbulkan sakit yang mendalam. Aku hanya bisa
berdoa jika memang rasa itu tak pantas untuk hadir di hatiku, biarkanlah rasa
itu untuk segera pergi tanpa harus menimbulkan jejak yang nyata, tapi jika
memang rasa itu pantas untuk hadir mengisi kekosongan hati yang selama ini ku
jaga, biarkanlah rasa itu untuk tetap tinggal dan terjaga. Melengkapi kehampaan
relung hati dan memberikan secercah warna kehidupan di hatiku. Walau nantinya,
rasa itu hanya mampu terpendam dalam
hati dan hanya mampu di ungkapkan dengan keterdiaman yang berarti.
Good mia
BalasHapusmakasih sadam :)
BalasHapus